Aceh, kopelmanews.com – Saat ini, banyak bermunculan istilah unik yang dipakai untuk menamakan suatu generasi. Salah satu yang sering terdengar yaitu generasi strawberry. Sebenarnya, apa itu generasi strawberry? Generasi strawberry adalah istilah yang menggambarkan karakter generasi muda di era Society 5.0, tak terkecuali generasi muda Muslim. Mereka umumnya penuh ide dan kreativitas, tetapi mudah goyah di bawah tekanan dan gampang sakit hati, sebagaimana buah Strawberry dilambangkan sebagai buah yang indah, lucu, menarik, tetapi gampang mengkerut, mudah hancur.
Di Indonesia, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Prof Rhenald Kasali, ini adalah Neologisme Tionghoa untuk orang taiwan yang lahir pasca 1990: “gampang mengkerut” seperti strawberry, tak tahan tekanan sosial, tidak memiliki kreatifitas mengatasi masalah sehingga terjebak dalam tekanan, bahkan ada yang memilih untuk bunuh diri, tak sedikit media yang memberitakan kenyataan ini. Lelucon tentang generasi ini sering muncul, seperti dianggap kurang tahan banting di dunia nyata dan sering mencari “healing” untuk mengatasi tekanan.
Begitu banyak gagasan-gagasan kreatif yang dilahirkan oleh generasi ini, sekaligus pula juga tidak kalah banyak cuitan resah penggambaran suasana hati yang dirasakan oleh mereka. Ini adalah salah satu cuitan salah satu mahasiswa semester 2 di platform X yang menggambarkan karakter mereka:
“Gua generasi muda umur 21, gak nyangka ternyata kuliah itu seburuk itu untuk mental. Semester 1 kemarin gua udah dihujani materi sama tugas yang bener-bener banyak, akibatnya waktu gua untuk healing sama self reward jadi kurang banget.
Yang tadinya gua masih bisa nonton Netflix sama chat-chatan dengan bestie, sekarang jadi susah banget. Gua kayaknya belum siap kuliah deh. Gua udah ngomong ke ortu kalau gua mau cuti dulu semester ini. Gua mau fokus healing selama 6 bulan dulu. Tapi ortu gua malah gak setuju, bahkan gua dibilang manja.
Gua bingung mau gimana, takutnya kalau dipaksain IPK gua malah tambah anjlok. Gua juga susah komunikasikan ini ke ortu gua, karena mereka gak aware sama mental health yang kayak gua gini. Gua mesti gimana…??? (dan diakhiri dengan emoticon menangis).”
Apa Penyebab munculnya fenomena generasi ini?Menurut Prof. Rhenald Kasali adanya fenomena strawberry generation ini disebabkan sekurang-kurangnya dua faktor: Pertama, pola pengasuhan orang tua yang slaah, Kedua, self diagnosis terlalu dini tanpa melibatkan pihak yang ahli.
Lalu Bagaimana Solusinya dalam Islam?
Pertama, Pola pengasuhan orang tua. Orang tua merupakan faktor pertama dan utama di mana nilai-nilai Tauhid, Sikap, dan Kemandirian ditanamkan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadits ini, tersurat pelajaran besar betapa orang tua akan sangat mempengaruhi generasi mudanya. Fitrah setiap generasi muda yang lahir adalah bertauhid, mengesakan Allah. Artinya setiap generasi muda yang lahir adalah beriman. Mengapa ada generasi muda yang berbelok, tidak lagi lurus keimanannya, itu karena orang tuanya. Namun, dengan tren urbanisasi dan perubahan pola hidup, interaksi antar anggota keluarga seringkali terganggu.
Diperlukan peran aktif dari orang tua. Allah Subhanahu wata’ala berfirman daidalam Qur’an Surat At Tahrim ayat 6,“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Orang tua perlu menyadari pentingnya mendidik dan memberikan perhatian yang cukup kepada generasi muda-generasi muda mereka. Pemberian contoh yang baik, komunikasi yang terbuka, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang secara mandiri merupakan langkah-langkah penting dalam memperkuat kemandirian generasi muda.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra pernah memberikan nasihat perihal bagaimana mendidik generasi muda keturunan kita: “Didiklah generasi mudamu sesuai dengan zamannya. Karena, mereka hidup bukan di zamanmu.” Seringkali orang tua menerapkan pola pendidikan yang salah kepada generasi mudanya. Seperti memanjakan generasi muda, menebus waktu kebersamaan dengan menuruti semua keinginannya, atau kurang memperhatikan pola pendidikan untuk melatih kemandirian generasi muda.
Kedua, self diagnosis terlalu dini tanpa melibatkan pihak yang ahli. Seperti mencocokan informasi yang ada di media sosial dengan yang dirinya rasakan. Akibatnya, generasi muda muda zaman sekarang cenderung dengan mudahnya merasa bahwa mereka tertekan, stres, dan bahkan depresi tanpa melakukan serangkaian pemeriksaan psikologi terlebih dahulu. Pengaruh media sosial dan teknologi pada generasi muda-generasi muda dan remaja saat ini tumbuh dalam era di mana teknologi sangat merajalela.
Dalam Islam sebenarnya tidak ada generasi strawbery yang ada adalah pemuda yang tangguh seperti yang diceritakan oleh Allah didalam Qur’an surat Al Kahfi ayat 13,“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13)
Islam menaruh perhatian besar kepada para pemuda. Pemuda merupakan agent of change, penerus estafet perjuangan dan kepemimpinan dunia. Maka dalam Islam eksistensi pemuda sangat penting. Pemuda Islam adalah pemuda yang tangguh serta sistem tangguh yang memfasilitasi tumbuh kembang generasi menjadi pemuda yang kuat serta taat, yang tak hanya berorientasi keduniaan semata, namun bervisi jauh ke depan, yaitu kebahagiaan di kehidupan akhirat.
Karena sesungguhnya usia muda kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Dalam Kitab Ash-Shahihah no. 946, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam terkait masa muda yang akan ditanya oleh Allah kelak di hari perhitungan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu)”
Dalam menghadapi tantangan Generasi Strawbery, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Hanya dengan upaya bersama, memungkinkan generasi untuk tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang tangguh dan mandiri di masa depan. Dengan cara-cara tadi di atas, generasi yang awalnya merupakan bagian dari generasi strawberry, bisa tumbuh menjadi generasi khuirul Ummah. Yakni generasi terbaik serta tangguh yang akan memimpin peradaban mulia di antara umat manusia lainnya.

