Aceh, Kopelmanews.com – Kunjungan ke SLB TNCC Banda Aceh menjadi pengalaman yang sangat berharga dan membuka cara pandang baru tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus. Sebelum berkunjung, telah ada pemahaman teoretis mengenai anak-anak dengan kebutuhan berbeda. Namun, interaksi langsung di lapangan menunjukkan bahwa pengalaman nyata jauh lebih kuat dan menyentuh dibandingkan pengetahuan yang hanya dipelajari secara konseptual. Lingkungan sekolah yang hangat, kesabaran para guru, serta keunikan setiap anak memperlihatkan makna pendidikan yang sesungguhnya. Banda Aceh (26/12/2025)
Pertemuan dengan Azkan, anak dengan gangguan hiperaktif, menjadi salah satu momen yang berkesan. Energinya yang tinggi, kesulitan duduk diam, serta kecenderungan berpindah aktivitas dengan cepat sempat menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, seiring proses interaksi, terlihat bahwa Azkan bukan anak yang sulit, melainkan anak cerdas yang membutuhkan pendekatan pembelajaran berbeda. Ia memerlukan penyampaian yang singkat, jelas, dan variatif agar mampu fokus. Hal ini menunjukkan bahwa anggapan “sulit diatur” sering muncul karena metode yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhan anak.
Berbeda dengan Azkan, Alfarisi, anak dengan gangguan autisme, menghadirkan pelajaran tentang ketenangan dan makna kehadiran. Al tampak nyaman dengan rutinitas dan fokus pada minat tertentu. Interaksi dengannya memperlihatkan bahwa komunikasi tidak selalu harus bersifat verbal. Dalam banyak situasi, mengikuti ritme anak dan menghargai dunianya justru menjadi bentuk komunikasi yang paling bermakna.
Pengalaman bersama Jocelyn, anak dengan gangguan sosial komunikasi, semakin menegaskan pentingnya menciptakan rasa aman dalam proses belajar. Jocelyn membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons dan terlihat canggung saat berinteraksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan yang sabar dan suportif sangat dibutuhkan agar anak berani mengekspresikan diri tanpa rasa takut.
Sementara itu, pertemuan dengan Afdhal, anak dengan gangguan intelektual, memberikan pelajaran mendalam tentang pentingnya proses. Afdhal memerlukan pendampingan intensif, bahkan untuk memahami instruksi sederhana. Meski proses belajarnya berlangsung lebih lambat, semangat yang ditunjukkan tetap terlihat jelas. Setiap kemajuan kecil menjadi pencapaian yang sangat berarti.
Secara keseluruhan, kunjungan ini menegaskan bahwa setiap anak memiliki cara unik dalam belajar dan berinteraksi. Pengalaman di SLB TNCC Banda Aceh memperlihatkan bahwa kesabaran, empati, serta penghargaan terhadap proses jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar hasil. Pendidikan, pada akhirnya, bukan hanya tentang capaian akademik, melainkan tentang memanusiakan manusia.

