Aceh, Kopelmanews.com – Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh dan sebagian Sumatera Utara sepanjang Desember 2025 memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan tinggi. Curah hujan ekstrem yang terjadi secara berkelanjutan menyebabkan banjir bandang, longsor, serta gangguan infrastruktur dasar seperti listrik dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah. Banda Aceh (27/12/2025)
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemberitaan berbagai media, bencana ini menyebabkan kerusakan fasilitas publik serta gangguan aktivitas masyarakat dalam jangka waktu yang cukup panjang. Di sektor pendidikan tinggi, kondisi tersebut berdampak langsung pada keberlangsungan aktivitas perkuliahan di sejumlah perguruan tinggi di Aceh, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan universitas di sekitarnya.
Pemadaman listrik yang berlangsung hampir satu bulan menyebabkan aktivitas akademik tidak dapat berjalan secara normal. Sebagian wilayah hanya mendapatkan aliran listrik secara bergilir, sementara wilayah lainnya masih mengalami pemadaman total. Kondisi ini menghambat pelaksanaan perkuliahan, pengerjaan tugas, serta akses mahasiswa terhadap fasilitas pembelajaran berbasis teknologi yang selama ini menjadi bagian penting dari proses pendidikan tinggi.
Mahasiswa perantau menjadi kelompok yang paling terdampak. Terputusnya jaringan komunikasi di sejumlah wilayah Sumatera Utara dan Aceh menyebabkan mahasiswa tidak dapat berkomunikasi dengan orang tua dan keluarga di kampung halaman. Akibatnya, pengiriman biaya hidup bulanan mengalami hambatan, sehingga mahasiswa harus menghadapi tekanan finansial yang semakin berat di tengah situasi darurat.
Selain itu, kondisi mati listrik berkepanjangan memaksa mahasiswa untuk lebih sering keluar dari tempat tinggal atau kos. Banyak mahasiswa harus mencari warung kopi yang memiliki generator set (genset) untuk mengisi daya telepon genggam, laptop, dan lampu darurat, sekaligus mengerjakan tugas perkuliahan yang tidak dapat diselesaikan di lingkungan kampus. Aktivitas ini secara tidak langsung meningkatkan pengeluaran harian mahasiswa, baik untuk konsumsi maupun transportasi, sehingga memperparah kondisi ekonomi mereka.
Dari perspektif psikologi pendidikan, situasi tersebut berdampak pada kondisi psikologis mahasiswa. Tekanan akademik yang tetap berjalan di tengah keterbatasan fasilitas, ketidakpastian kondisi keluarga di daerah terdampak bencana, serta kesulitan ekonomi memicu stres situasional dan kecemasan. Stres ini muncul sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang mendadak dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, kondisi pasca bencana menunjukkan bahwa kebutuhan dasar mahasiswa, seperti rasa aman, kenyamanan fisik, dan kestabilan ekonomi, belum terpenuhi secara optimal. Ketika kebutuhan dasar tersebut terganggu, mahasiswa akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tingkat lebih tinggi, termasuk kebutuhan akademik dan aktualisasi diri melalui prestasi belajar.
Selain itu, menurut teori stres dan koping Lazarus dan Folkman, mahasiswa berada dalam situasi stresor lingkungan yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi. Namun, keterbatasan sumber daya, baik finansial, sosial, maupun fasilitas belajar, membuat strategi koping mahasiswa menjadi kurang efektif. Hal ini berpotensi menurunkan konsentrasi, motivasi belajar, serta daya tahan mental mahasiswa selama masa perkuliahan berlangsung.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Aceh menunjukkan respons nyata terhadap dampak bencana. Sebagian besar mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang terdampak banjir bandang mendapatkan bantuan tanggap darurat dari pihak universitas. Bantuan ini diberikan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa selama masa krisis.
Selain bantuan finansial, beberapa Universitas di Banda Aceh, khususnya UIN Ar-Raniry juga menginisiasi program makan gratis bagi mahasiswa terdampak. Program ini dinilai sangat membantu mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, sekaligus mengurangi tekanan finansial akibat meningkatnya pengeluaran selama masa bencana.
Dari sisi psikologis, bantuan dan dukungan sosial tersebut memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat stres dan kecemasan mahasiswa. Dalam psikologi pendidikan, dukungan sosial dipandang sebagai faktor protektif yang dapat meningkatkan ketahanan psikologis (resilience) individu dalam menghadapi situasi krisis.
Secara keseluruhan, banjir bandang yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera Utara pada akhir 2025 tidak hanya melumpuhkan aktivitas perkuliahan, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis dan finansial mahasiswa. Oleh karena itu, pemulihan pendidikan pasca bencana perlu dilakukan secara holistik, dengan memperhatikan aspek akademik, pemenuhan kebutuhan dasar, serta dukungan psikososial yang berkelanjutan.
Keterlibatan aktif institusi pendidikan, dosen, dan mahasiswa menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai ruang aman dan sumber dukungan bagi mahasiswa dalam menghadapi dampak bencana. Dengan sinergi antara kebijakan kampus, pendekatan psikologi pendidikan, dan kepedulian kemanusiaan, proses perkuliahan pasca bencana diharapkan dapat kembali berjalan secara lebih stabil dan manusiawi.

