Aceh, Kopelmanews.com – Kunjungan ke SLB YPAC Banda Aceh menjadi ruang pembelajaran yang bermakna, bukan hanya tentang dunia pendidikan khusus, tetapi juga tentang cara memandang manusia secara lebih adil dan manusiawi. Banda Aceh (26/12/2025)
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kerap ditempatkan dalam narasi keterbatasan, seolah perbedaan yang mereka miliki identik dengan ketidakmampuan. Padahal, di balik itu terdapat potensi, semangat, dan proses belajar yang tidak kalah bernilai dibandingkan anak pada umumnya.
Saat berkunjung, suasana hujan menyertai aktivitas di sekolah tersebut. Meski demikian, kegiatan belajar tetap berlangsung. Anak-anak dari jenjang SD, SMP, hingga SMA mengikuti pelajaran olahraga secara bersama. Guru mempraktikkan latihan gerak dasar berupa berguling di atas matras, sambil memberikan arahan secara perlahan dan berulang.
Proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus menuntut pendekatan yang berbeda, tidak semata mengandalkan penjelasan verbal atau kemampuan literasi, tetapi lebih pada contoh konkret, pengulangan, serta komunikasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing anak.
Pengalaman tersebut menghadirkan kekaguman tersendiri terhadap para guru di SLB YPAC Banda Aceh. Dengan kesabaran dan empati, mereka berupaya memastikan setiap anak dapat memahami instruksi semampunya. Ketika anak belum sepenuhnya mengerti, guru tidak menunjukkan sikap menyalahkan, melainkan kembali mencontohkan gerakan dan menyederhanakan penjelasan. Dari sini terlihat bahwa peran pendidik di sekolah luar biasa tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang memahami keragaman cara belajar peserta didik.
Realitas ini sekaligus mengingatkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap Anak Berkebutuhan Khusus masih perlu terus diperluas. Selama ini, ABK sering dipersepsikan sebagai individu dengan banyak keterbatasan, sehingga keberadaannya kerap dipinggirkan dalam ruang sosial. Padahal, setiap anak memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda. Ketika pendekatan pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan mereka, potensi tersebut dapat tumbuh secara bertahap dan bermakna.
Pada akhirnya, pengalaman menyaksikan langsung proses belajar anak-anak di tengah hujan menjadi refleksi bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal capaian akademik, melainkan tentang menghargai proses, usaha, dan martabat setiap individu. Sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya kita turut membangun cara pandang yang lebih inklusif dan empatik. Mengubah stigma bukanlah hal instan, tetapi dapat dimulai dari kesediaan untuk memahami, menerima, dan menghargai keberagaman manusia, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus

