Aceh, kopelmanews.com – Meunasah Gampong Durung tampak lebih hidup dari biasanya selama tiga hari berturut-turut, sejak 26 hingga 28 Juli 2025. Tawa riang anak-anak, semangat para peserta, dan dukungan penuh dari masyarakat mewarnai pelaksanaan kegiatan Apresiasi Literasi Tingkat Desa yang digagas oleh Kelompok KKN Tematik Literasi 174 Universitas Syiah Kuala.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja bertajuk Revitalisasi Perpustakaan Gampong, yang tak hanya berfokus pada pembenahan ruang baca desa, namun juga menyasar langsung peningkatan budaya literasi masyarakat. Dalam semangat inilah, para mahasiswa KKN menyelenggarakan serangkaian perlombaan literasi yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan.
Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta yang terdiri dari anak-anak dan remaja Gampong Durung turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan kompetitif, seperti lomba mewarnai, cerdas cermat, hingga cerdas mengulas buku. Tidak hanya mengasah kreativitas, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kritis di kalangan generasi muda desa.

“Kegiatan ini kami rancang bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai bentuk nyata dukungan terhadap tumbuhnya budaya baca dan belajar di tingkat desa,” ujar Cut Fatma Ulfa, salah satu panitia pelaksana dari KKN L-XXVII174 saat diwawancarai di lokasi kegiatan. Ia juga menambahkan bahwa respons masyarakat sangat positif, bahkan banyak anak yang tidak sabar menunggu giliran tampil dalam lomba-lomba yang diadakan.
Meunasah yang kerap dimanfaatkan untuk kegiatan posyandu serta berbagai pertemuan warga, selama tiga hari ini berubah menjadi ruang berkumpulnya semangat dan inspirasi. Dengan dipenuhi karya anak-anak dan poster-poster literasi, tempat ini menjadi saksi nyata bahwa literasi bisa dimulai dari ruang-ruang sederhana, selama ada kemauan untuk belajar dan berbagi.
Apresiasi Literasi ini menjadi salah satu puncak kegiatan KKN Tematik Literasi 174 di Gampong Durung. Lebih dari sekadar lomba, acara ini menjadi simbol kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, bahwa upaya mencerdaskan bangsa memang harus dimulai dari desa dan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
(LA)

