Aceh, Kopelmanews.com – Perkembangan anak mencakup berbagai aspek penting, antara lain perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Di antara aspek tersebut, perkembangan emosi memiliki peran yang sangat fundamental karena menjadi dasar bagi kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan, mengelola perasaan, serta membentuk kepribadian yang sehat. Banda Aceh (26/12/2025)
Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), perkembangan emosi sering kali menjadi tantangan tersendiri karena adanya keterbatasan tertentu yang memengaruhi cara anak memahami, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi. Oleh sebab itu, perhatian terhadap perkembangan emosi ABK menjadi hal yang sangat penting dalam upaya mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari anak pada umumnya, baik dari segi fisik, intelektual, emosional, maupun sosial, sehingga memerlukan layanan pendidikan dan pendampingan khusus. Perbedaan tersebut sering kali berdampak langsung pada perkembangan emosinya. Tanpa pemahaman yang tepat, kondisi emosi ABK dapat disalahartikan sebagai perilaku negatif, padahal sebenarnya merupakan bentuk keterbatasan dalam mengekspresikan perasaan.
Pengertian Perkembangan Emosi
Erik Erikson menyatakan bahwa perkembangan emosi individu berlangsung melalui delapan tahap psikososial yang terjadi sepanjang rentang kehidupan. Pada masa kanak-kanak, individu dihadapkan pada konflik seperti trust vs mistrust, autonomy vs shame and doubt, serta initiative vs guilt. Keberhasilan anak dalam menyelesaikan setiap tahap akan membentuk emosi yang sehat dan kepribadian yang positif. Pada Anak Berkebutuhan Khusus, proses penyelesaian tahap-tahap tersebut sering mengalami hambatan akibat keterbatasan kemampuan, pengalaman sosial yang terbatas, atau perlakuan lingkungan yang kurang mendukung.
Menurut Jean Piaget, perkembangan emosi berkaitan erat dengan perkembangan kognitif anak. Kemampuan anak dalam memahami emosi, baik emosi diri sendiri maupun orang lain, sangat dipengaruhi oleh tingkat perkembangan berpikirnya. Anak yang berada pada tahap praoperasional, misalnya, masih bersifat egosentris sehingga kesulitan memahami sudut pandang emosional orang lain.
Pada ABK, keterlambatan atau gangguan perkembangan kognitif dapat berdampak langsung pada perkembangan emosi. Anak mungkin mengalami kesulitan mengenali perasaan, mengendalikan emosi, atau menyesuaikan respons emosional dengan situasi sosial. Oleh sebab itu, stimulasi kognitif yang tepat sangat penting untuk mendukung perkembangan emosi ABK.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi ABK
Perkembangan emosi ABK dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor biologis, seperti kondisi neurologis dan genetik, menjadi dasar yang memengaruhi respons emosional anak. Selain itu, faktor lingkungan, khususnya keluarga, memiliki peran yang sangat besar.
Pola asuh yang penuh kasih sayang, penerimaan, dan konsistensi akan membantu ABK merasa aman secara emosional. Faktor pendidikan juga turut menentukan perkembangan emosi ABK. Lingkungan sekolah yang inklusif dan ramah anak memungkinkan ABK belajar berinteraksi, bekerja sama, serta mengenali emosi diri dan orang lain. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung, seperti adanya stigma, diskriminasi, atau penolakan sosial, dapat memperburuk kondisi emosional anak dan menghambat perkembangan dirinya.
Peran Orang Tua dan Guru dalam Mengembangkan Emosi ABK
Orang tua dan guru memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan emosi ABK. Orang tua berperan sebagai pendamping utama yang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Melalui komunikasi yang hangat dan penerimaan tanpa syarat, orang tua dapat membantu anak mengenali dan mengekspresikan perasaannya dengan lebih baik.
Guru, khususnya di sekolah inklusif atau pendidikan khusus, berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Guru dapat menggunakan pendekatan individual, penguatan positif, serta pembelajaran sosial-emosional untuk membantu ABK mengembangkan keterampilan emosi dan sosial. Kerja sama antara orang tua dan guru menjadi kunci penting dalam memastikan perkembangan emosi ABK berjalan secara konsisten.
Upaya Pengembangan Emosi Anak Berkebutuhan Khusus
Pengembangan emosi ABK dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti pemberian terapi perilaku, konseling, dan pelatihan keterampilan sosial. Kegiatan bermain, bercerita, dan role play juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melatih pengenalan dan pengelolaan emosi. Selain itu, pemberian apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya hasil, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kestabilan emosi ABK. Pendekatan yang berpusat pada anak serta menghargai keunikan setiap individu sangat diperlukan dalam proses ini. Dengan dukungan yang tepat dan berkelanjutan, ABK dapat mengembangkan kemampuan emosional yang lebih adaptif dan positif.

