Aceh, Kopelmanews.com – Sejarah Islam Indonesia selama ini lebih banyak ditulis dengan menonjolkan peran tokoh-tokoh laki-laki, seperti ulama, sultan, dan pemimpin pergerakan. Narasi tersebut mendominasi buku pelajaran, karya historiografi, maupun kajian akademik. Akibatnya, kontribusi perempuan dalam perjalanan sejarah Islam Indonesia sering kali terpinggirkan dan kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Banda Aceh (21/12/2025)
Padahal, sejak awal masuknya Islam ke Nusantara, perempuan telah memiliki peran yang signifikan dalam proses penyebaran dan penguatan ajaran Islam. Islam berkembang melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan pendidikan. Dalam ketiga jalur tersebut, perempuan berperan sebagai agen penting dalam mentransmisikan nilai-nilai keislaman, terutama melalui institusi keluarga. Perempuan menjadi pendidik pertama yang menanamkan akidah, ibadah, dan akhlak kepada generasi berikutnya.
Dalam bidang politik, sejarah Kesultanan Aceh Darussalam menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki ruang kepemimpinan dalam tradisi Islam Nusantara. Pada abad ke-17, Aceh dipimpin oleh beberapa sultanah, salah satunya Sultanah Safiatuddin Syah. Pada masa pemerintahannya, Aceh tetap berkembang sebagai pusat keilmuan Islam dan perdagangan internasional. Kepemimpinan ini membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk berperan aktif dalam struktur politik Islam.
Selain itu, perempuan berkontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam. Di lingkungan pesantren, istri dan putri kiai berperan sebagai pengajar Al-Qur’an, fiqih dasar, serta pendidikan akhlak, khususnya bagi santri perempuan. Meskipun peran ini sering tidak terdokumentasi secara formal, kontribusinya sangat penting dalam membentuk karakter dan keilmuan generasi Muslim.
Memasuki abad ke-20, peran perempuan dalam pendidikan Islam semakin nyata melalui tokoh-tokoh seperti Rahmah El Yunusiyah di Sumatra Barat. Ia mendirikan Diniyah Putri, sebuah lembaga pendidikan Islam khusus perempuan yang memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum. Lembaga ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemberdayaan perempuan Muslim di Indonesia.
Pada masa pergerakan nasional hingga pasca-kemerdekaan, perempuan Muslim terlibat aktif dalam organisasi keagamaan dan sosial, seperti Aisyiyah dan Muslimat Nahdlatul Ulama. Melalui organisasi-organisasi tersebut, perempuan berkontribusi dalam bidang pendidikan, kesehatan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan tidak terbatas pada ranah domestik, tetapi juga mencakup kehidupan sosial dan keagamaan yang lebih luas.
Namun demikian, kontribusi perempuan dalam sejarah Islam Indonesia masih kurang mendapat perhatian dalam penulisan historiografi. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan penulisan sejarah yang berfokus pada kekuasaan politik dan tokoh laki-laki. Akibatnya, peran perempuan yang banyak berlangsung di ranah pendidikan dan sosial sering dianggap kurang signifikan.
Oleh karena itu, diperlukan pembacaan ulang terhadap sejarah Islam Indonesia dengan perspektif yang lebih inklusif. Menghadirkan perempuan sebagai subjek sejarah bukan hanya untuk mencapai keadilan narasi, tetapi juga untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai perkembangan Islam di Indonesia. Sejarah Islam Indonesia pada hakikatnya dibangun melalui kontribusi bersama antara laki-laki dan perempuan.

