Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Minggu, Februari 8
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Nama yang Menyimpan Sejarah: Membaca Identitas Aceh melalui Toponimi
    Opini

    Nama yang Menyimpan Sejarah: Membaca Identitas Aceh melalui Toponimi

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/20/2025Tidak ada komentar109 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Aqlil Haqqi, Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Kita menyebut nama tempat hampir setiap hari tanpa pernah berpikir tentang dari mana nama itu berasal. Layaknya nama kita sebagai manusia pasti ada arti dibalik nama kita. Begitu juga dengan nama tempat yang bukan sekadar nama atau penunjuk lokasi, ada kalanya di balik nama itu tersimpan sebuah arti, baik itu jejak sejarah, ingatan kolektif, atau fungsi dari wilayah tersebut. Banda Aceh (20/12/2025)

    Dalam kajian ilmu sejarah, penamaan tempat berdasarkan sejarah dikenal dengan istilah toponimi dan Aceh adalah salah satu wilayah yang kebanyakan nama tempat nya menggunakan praktik ini. Sejarahnya yang panjang sebagai pusat peradaban, perdagangan, dan kekuasaan tercermin jelas dalam nama-nama wilayahnya.

    Kita dapat mengambil contoh yaitu nama Banda Aceh. Nama ini berasal dari kata bandar, yang menandakan fungsinya sebagai tempat pemberhentian kapal yang penting pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Nama ini bukan hanya penanda geografis, tetapi juga pengingat bahwa Aceh pernah menjadi jalur perdagangan internasional di Asia Tenggara.

    Contoh lain yang bisa kita lihat adalah nama Kutaraja, sebutan kota Banda Aceh pada masa kolonial. Istilah ini berasal dari kata kuta (kota) dan raja, yang merujuk pada pusat kekuasaan Kesultanan Aceh. Perubahan nama Kutaraja menjadi Banda Aceh dilakukan untuk menghapus jejak simbolik kolonialisme, karena kutaraja lebih identik kepada administrasi belanda. Dari sini terlihat bahwa satu wilayah bisa memiliki lebih dari satu identitas, tergantung pada zamannya

    Toponimi Aceh juga sering berkaitan dengan struktur sosial dan fungsi wilayah di masa lalu. Ulee Kareng, contohnya, mengandung makna kepemimpinan karna Ulee sendiri berarti kepala, Sementara Lambaro dikenal sebagai kawasan persinggahan sebelum memasuki pusat pemerintahan kesultanan. Nama-nama ini lahir dari pengalaman sejarah masyarakat, bukan sekedar penamaan yang asal-asalan.

    Namun, tidak semuanya  bersumber dari catatan tertulis. Banyak di antaranya berasal dari tradisi lisan yang diwariskan generasi ke generasi. Manyak Payed di Aceh Tamiang adalah contoh yang menarik. Dalam cerita rakyat setempat, wilayah ini sering dikaitkan dengan wafatnya Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit.

    Meski sampai saat ini tidak ditemukan bukti sejarah baik tertulis maupun temuan arkeologi yang menguatkan cerita tersebut, kisah ini tetap hidup dan membentuk identitas kultural masyarakat. Dalam kajian sejarah, narasi semacam ini dipahami sebagai bagian dari sejarah lisan, memang bukan fakta pasti, tetapi cerminan dari ingatan kolektif yang memiliki nilai budaya.

    Bagi kita generasi muda, memahami makna di balik nama tempat menjadi semakin penting di tengah derasnya arus modernisasi. Ketika nama wilayah hanya dipandang sebagai sebuah nama , cerita dibaliknya perlahan memudar. Padahal, dari nama-nama itulah kita bisa mengenali asal-usul, nilai, dan identitas lokal yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya.

    Karena itu, penamaan wilayah perlu dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemerintah daerah, akademisi, dan lapisan masyarakat agar terlibat supaya toponimi tidak tercabut dari akar sejarah dan budaya. Karena nama tempat bukan sekadar tulisan di peta, melainkan arsip sejarah yang terus dipakai dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Pada akhirnya, menjaga toponimi berarti menjaga ingatan. Selama nama-nama tempat masih dipahami maknanya, sejarah akan tetap hidup di tengah ruang kehidupan masyarakat.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026

    Ketika Langit Tak Memilih Siapa yang Berhak Terbang

    01/14/2026

    Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tantangan, Hak, dan Harapan dalam Pendidikan serta Kehidupan Sosial

    01/10/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,209
    Don't Miss
    Nasional

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    By admin@kopelmanews.com02/07/20269

    Aceh, Kopelmanews.com – Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Ar-Raniry Sumatera Utara (IMARSU), Reyhan Marbun, menghadiri…

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026

    Mahasiswa KKN UNIMAL Kelompok 17 Bersihkan Lapangan Voli Desa Teupin Banja

    01/22/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.