Aceh, Kopelmanews.com – Anak berkebutuhan khusus sering dipahami sebagai kelompok yang “berbeda”. Namun, pengalaman langsung saya saat melakukan observasi di SLB TNCC justru menunjukkan bahwa mereka sama seperti kita. Mereka belajar, merasakan, dan bermimpi, hanya saja dengan cara yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang lebih spesial. SLB TNCC memiliki 11 kelas dengan rata-rata tujuh siswa dalam setiap kelas. Jumlah ini memungkinkan guru memberikan perhatian individual sesuai kebutuhan masing-masing anak. Banda Aceh (27/12/2025)
Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di kelas anak berkebutuhan khusus berlangsung dalam dinamika yang tidak selalu seragam. Setiap anak menunjukkan cara belajar dan tingkat kesiapan yang berbeda. Dalam situasi ini, fleksibilitas guru dalam menyesuaikan instruksi dan ritme belajar menjadi faktor utama yang memungkinkan kegiatan pembelajaran tetap berjalan.
Observasi dilakukan secara langsung di kelas IV SLB TNCC yang pada saat itu sedang melaksanakan ujian mata pelajaran Seni Musik. Kegiatan ujian yang diamati menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak selalu ditentukan oleh kecepatan menyelesaikan tugas. Karena keberagaman kondisi siswa mulai dari sensory processing disorder, kesulitan regulasi diri, tunagrahita, autisme, hingga down syndrome menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak dapat disamaratakan.
Ada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama, arahan berulang, atau pendampingan langsung, namun tetap mampu terlibat dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar anak berkebutuhan khusus perlu dipahami sebagai perjalanan yang bertahap, bukan sebagai target hasil yang harus dicapai secara seragam.
Di kelas, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai instruksi akademik, tetapi juga sebagai pengelola suasana dan pendamping emosional. Guru terlihat aktif menjaga stabilitas kelas, memberikan perhatian personal, serta menggunakan pendekatan yang lembut namun tegas ketika diperlukan. Pola pendampingan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran anak berkebutuhan khusus sangat bergantung pada kualitas interaksi antara guru dan siswa.
Pendekatan guru yang penuh kesabaran juga mencerminkan pemahaman bahwa setiap anak memiliki batas dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, guru tidak memaksakan standar yang sama kepada seluruh siswa, melainkan berusaha memastikan setiap anak tetap terlibat sesuai dengan kemampuannya.
Selain kegiatan belajar di kelas, SLB TNCC juga menyediakan layanan terapi pada sore hari, seperti terapi wicara, terapi okupasi, terapi perilaku, dan lain sebagainya. Layanan ini bertujuan untuk mendukung perkembangan komunikasi, motorik, serta regulasi emosi siswa. Kombinasi antara pembelajaran akademik dan terapi menunjukkan bahwa SLB TNCC menerapkan pendekatan pendidikan holistik yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Lingkungan belajar di SLB TNCC dapat dipandang sebagai ruang yang mendukung proses tumbuh anak berkebutuhan khusus secara menyeluruh. Kelas yang tidak terlalu padat, pengawasan intensif guru, serta adanya layanan terapi menjadi faktor pendukung terciptanya proses pembelajaran yang lebih manusiawi. Lingkungan seperti ini memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar tanpa tekanan berlebihan, sekaligus memungkinkan guru menyesuaikan pendekatan secara lebih optimal.

