Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Senin, Februari 9
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Menyentuh Batas: Menghidupkan Zone of Proximal Development dalam Pendidikan
    Opini

    Menyentuh Batas: Menghidupkan Zone of Proximal Development dalam Pendidikan

    Rahmat Sapaat SiregarBy Rahmat Sapaat Siregar04/26/2025Tidak ada komentar22 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Dalam membentuk kepribadian yang utuh, kita pasti merasakan momen-momen ketika kemampuan yang dimiliki diuji melampaui batas yang selama ini kita tuntut selama pendidikan. Itulah yang disebut dengan “menyentuh batas” sebuah titik rapuh antara apa yang kita bisa lakukan sendiri dan apa yang masih terasa sulit atau bahkan mustahil, bukan berarti tidak bisa.

    Dalam pendidikan, momen ini bukan sekadar kebetulan. Ia adalah bagian penting dari proses belajar, sebagaimana dijelaskan oleh Lev Vygotsky lewat konsep Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD adalah wilayah di mana peserta didik berada sedikit di luar zona nyaman mereka: sebuah jarak antara kemampuan aktual (apa yang bisa mereka lakukan tanpa bantuan) dan kemampuan potensial (apa yang bisa mereka capai dengan bimbingan yang tepat).

    Menyentuh batas inilah yang menjadi jantung dari pembelajaran sejati. Ketika seorang siswa ditantang dengan tugas yang sedikit lebih sulit dari kemampuannya, namun masih mungkin dicapai dengan dukungan, maka proses perkembangan itu benar-benar terjadi. Tidak dengan paksaan, bukan pula dengan membiarkan mereka tenggelam dalam kesulitan, melainkan dengan kehadiran seorang guru, mentor, atau teman yang menjadi “penyangga” — memberi arahan seperlunya, lalu mundur perlahan saat siswa mulai mandiri.

    Konsep scaffolding (penopang belajar) inilah yang memperkaya penerapan ZPD di ruang-ruang pendidikan. Misalnya, ketika seorang guru bahasa Arab memberikan dialog sederhana yang bisa dikembangkan siswa menjadi percakapan yang lebih kompleks dengan sedikit panduan. Atau dalam matematika, saat seorang guru membimbing murid memahami konsep baru lewat contoh bertahap, hingga murid itu bisa menyelesaikan soal serupa secara mandiri.

    Namun sayangnya, praktik pendidikan kita sering kali mengabaikan pentingnya “ruang antara” ini. Banyak kurikulum dirancang terlalu linier—seolah-olah semua siswa bergerak dengan kecepatan yang sama. Sebaliknya, ZPD mengajarkan bahwa setiap peserta didik memiliki ritmenya sendiri. Ada yang cepat, ada yang lambat; ada yang butuh lebih banyak dorongan, ada yang hanya perlu sedikit sentuhan.

    Menghidupkan ZPD dalam pendidikan berarti menghormati proses, menghargai upaya, dan mempercayai pertumbuhan alami peserta didik. Ini berarti memberi tantangan yang realistis, menyediakan bantuan seperlunya, dan membangun kepercayaan bahwa dengan sedikit pertolongan, seseorang bisa melangkah lebih jauh dari yang ia bayangkan.

    Lebih dari itu, menerapkan ZPD adalah soal membangun hubungan: antara guru dan siswa, antara sesama teman belajar, bahkan antara siswa dengan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mengisi kepala dengan informasi, melainkan tentang menemani perjalanan manusia menembus batas-batas potensialnya.

    Dalam dunia yang serba cepat ini, godaan untuk mempercepat proses belajar sangat besar. Namun ZPD mengingatkan kita bahwa pertumbuhan sejati butuh waktu, kesabaran, dan kepekaan. Sama seperti pohon yang butuh musimnya sendiri untuk mengakar kuat, demikian pula manusia dalam perjalanan belajarnya.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    Rahmat Sapaat Siregar
    • Instagram

    Related Posts

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026

    Ketika Langit Tak Memilih Siapa yang Berhak Terbang

    01/14/2026

    Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tantangan, Hak, dan Harapan dalam Pendidikan serta Kehidupan Sosial

    01/10/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,209
    Don't Miss
    Nasional

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    By admin@kopelmanews.com02/07/20269

    Aceh, Kopelmanews.com – Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Ar-Raniry Sumatera Utara (IMARSU), Reyhan Marbun, menghadiri…

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026

    Mahasiswa KKN UNIMAL Kelompok 17 Bersihkan Lapangan Voli Desa Teupin Banja

    01/22/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.