Aceh, Kopelmanews.com – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih kerap dipandang semata-mata dari sisi keterbatasannya. Masyarakat cenderung memberi label “tidak mampu” sebelum benar-benar memahami kebutuhan dan potensi yang dimiliki anak-anak tersebut. Padahal, ABK bukanlah anak yang lemah, melainkan anak yang memerlukan pendekatan berbeda dalam proses belajar dan perkembangan dirinya.
Permasalahan utama sesungguhnya tidak terletak pada anak, melainkan pada lingkungan yang belum sepenuhnya siap menerima perbedaan. Minimnya pemahaman, keterbatasan fasilitas pendukung, serta masih kuatnya sikap diskriminatif menjadi hambatan besar bagi ABK untuk memperoleh hak yang setara, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pada kenyataannya, ABK memiliki potensi yang dapat berkembang secara optimal apabila didukung dengan pendekatan yang tepat. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor penentu dalam membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri dan bermartabat. Lingkungan yang inklusif bukan hanya memberikan ruang aman bagi ABK, tetapi juga menanamkan nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan kepada anak-anak lainnya.
Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat berhenti memandang ABK sebagai beban sosial. Keberadaan mereka merupakan bagian dari realitas kehidupan yang menuntut kita untuk bersikap lebih manusiawi. Menerima ABK berarti menghargai keberagaman serta memberikan kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

