Aceh, kopelmanews.com – Trans koetaradja sebagai salah satu layanan transportasi umum daerah kini menjadi perhatian masyarakat karena perannya yang semakin penting dalam mobilitas sehari-hari.
Di tengah kebutuhan transportasi yang cepat, murah, dan aman, keberadaan Trans koetaradja seharusnya mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Namun, berbagai persoalan seperti ketepatan waktu, kenyamanan armada, hingga kualitas pelayanan sering memunculkan pertanyaan: apakah Trans koetaradja sudah benar-benar memenuhi harapan publik? Melalui opini ini, saya ingin mengulas bagaimana kinerja Trans kotaradja saat ini serta apa saja yang perlu ditingkatkan agar layanan ini dapat benar-benar menjadi pilihan utama warga kota.
Trans koetaradja di Banda Aceh diluncurkan dengan tujuan yang sangat baik, menyediakan angkutan yang aman, terjangkau, berkelanjutan dan yang terpenting mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, yang menjadi masalah utama dalam kemacetan setelah operasi sejak 2016 pertanyaannya, apakah Trans Koetaradja mampu benar-benar menjadi solusi efektif dalam mengatasi kemacetan di Banda Aceh?
Secara kebijakan, hadirnya trans koetaradja adalah langkah maju yang patut diapresiasi dari pemerintah Aceh sebagai pusat pemerintah dan aktivitas mobilitas di Banda Aceh memang tinggi dan penyediaan angkutan massal adalah keharusan.
Menurut analisis bahwa kualitas pelayanan trans Koetaradja sangat baik mencakup aspek keselamatan kenyamanan dan efisiensi bayar sudah memenuhi angkutan umum yang baik bahkan sempat digratiskan untuk menarik minat masyarakat dan perbaikan fasilitas termasuk akses bagi disabilitas dan lansia juga harus dilakukan, namun pandangan di lapangan juga belum efektif trans koetaradja dalam mengurangi kemacetan masih menjadi perdebatan faktor utama kemacetan di Banda Aceh

Faktor utama kemacetan adalah domisi penggunaan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor, untuk aktivitas harian trans Koetaradja harus mampu “menggeser” penggunaan kendaraan pribadi untuk beralih keangkutan umum dengan itu trans kotaradja harus menambah rute yang lebih banyak lagi di daerah daerah yang belum sampai rute untuk memudahkan masyarakat dalam transportasi, tanpa insentif untuk kendaraan pribadi.
Perolehan ini sulit terjadi meskipun kualitas layanan dinilai baik, operasional trans kotaradja menghadapi tantangan optimalisasi termasuk konsistensi rute, jadwal, dan ketersediaan bus yang dipengaruhi oleh frekuensi alokasi dana operasional, ketika layanan tidak optimal masyarakat cenderung kembali pilihan yang lebih pasti yaitu kekendaraan pribadi.
Pada akhirnya, Trans kotaradja memiliki potensi besar untuk menjadi transportasi andalan masyarakat, tetapi potensi itu hanya dapat terwujud jika pihak pengelola berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan secara berkelanjutan. Perbaikan armada, peningkatan ketepatan waktu, serta pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan penumpang adalah langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
Masyarakat berhak mendapatkan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau. Harapan saya, Trans kotaradja dapat terus berbenah dan menjadi contoh transportasi publik yang benar-benar hadir untuk kepentingan rakyat.

