Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Minggu, Februari 8
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Dari Algoritma ke Kesadaran: Refleksi Filsafat Ilmu atas Kecerdasan Buatan
    Opini

    Dari Algoritma ke Kesadaran: Refleksi Filsafat Ilmu atas Kecerdasan Buatan

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com11/09/2025Tidak ada komentar50 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Penulis | Penulis : Fazlurrahman, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Arab, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Ketika mesin mulai menulis, berbicara, menerjemahkan, bahkan membuat keputusan, kita pun bertanya-tanya: apakah manusia masih menjadi pusat kecerdasan di dunia modern ini?
    Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi fenomena paling signifikan dalam sejarah peradaban. AI mampu melakukan berbagai hal yang dahulu hanya bisa dilakukan manusia: mengenali wajah, menganalisis data medis, menulis berita, hingga memprediksi keputusan ekonomi.

    Kemajuan ini membawa kekaguman sekaligus kegelisahan. Di satu sisi, AI memudahkan hidup manusia. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah AI suatu saat bisa benar-benar menggantikan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan?

    Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan menyentuh inti persoalan filsafat ilmu, sebab berkaitan dengan hakikat pengetahuan, realitas, dan nilai moral.

    Dalam filsafat ilmu, setiap fenomena dapat dikaji melalui tiga dimensi: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi berbicara tentang apa yang ada dan bagaimana hakikat keberadaannya. Epistemologi membahas cara pengetahuan diperoleh dan diakui kebenarannya. Sedangkan aksiologi menyoroti nilai dan tujuan dari penggunaan pengetahuan itu sendiri. Melalui tiga sudut pandang inilah kita dapat menempatkan AI bukan hanya sebagai alat teknologis, tetapi juga sebagai cermin yang mempertanyakan makna kemanusiaan.

    Ontologi: Antara Mesin dan Kesadaran

    Secara ontologis, kita perlu bertanya: apa sebenarnya hakikat AI itu sendiri? Apakah ia benar-benar “berpikir” sebagaimana manusia? Ataukah hanya meniru proses berpikir tanpa kesadaran?

    AI pada dasarnya hanyalah sistem algoritmik, sekumpulan perintah matematis yang dirancang untuk memproses data dan mengenali pola. Ia bisa belajar dari data besar (big data), membuat keputusan, bahkan berinteraksi dengan manusia. Namun, perbedaan mendasar antara AI dan manusia terletak pada kesadaran (consciousness). Manusia berpikir bukan hanya dengan logika, tapi juga dengan intuisi, emosi, dan nilai moral. AI tidak memiliki kesadaran diri; ia tidak “mengetahui bahwa ia mengetahui”.

    Dalam filsafat pikiran, hal ini pernah dibahas oleh René Descartes melalui pandangan dualisme. Ia membedakan antara substansi berpikir (res cogitans) dan substansi material (res extensa). AI termasuk dalam yang kedua: ia material dan mekanistik. Mesin hanya meniru proses berpikir tanpa benar-benar mengerti. Oleh karena itu, secara ontologis, AI bukanlah makhluk berpikir, melainkan alat representasi dari kecerdasan manusia itu sendiri.

    Namun, sebagian ilmuwan modern yang berpandangan materialistik berpendapat bahwa kesadaran bisa muncul dari kompleksitas sistem material. Jika algoritma AI terus berkembang, mungkinkah lahir bentuk kesadaran buatan (artificial consciousness)?
    Pertanyaan ini membuka dilema baru: apakah manusia siap mengakui entitas non-biologis sebagai subjek berpikir sejajar dengan manusia?

    Filsafat ilmu mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya berurusan dengan fungsi, tetapi juga dengan makna eksistensi. AI diciptakan oleh manusia, dan karena itu tetap berada dalam batas-batas ciptaan. Mesin tidak memiliki makna moral kecuali yang diberikan manusia kepadanya. Inilah batas ontologis yang tidak boleh dilupakan.

    Epistemologi: Membedakan Pengetahuan Buatan dan Pengetahuan Manusia

    Dari sisi epistemologi, persoalannya bukan lagi “apa itu AI”, melainkan “bagaimana AI  mengetahui sesuatu”. AI memperoleh “pengetahuan” melalui proses machine learning dan deep learning. Ia menganalisis data dalam jumlah besar, menemukan pola, lalu membuat prediksi. Tetapi, berbeda dengan manusia, AI tidak memahami makna di balik pengetahuan itu. AI hanya memproses informasi tanpa refleksi: ia “mengetahui tanpa mengetahui bahwa ia tahu.”

    Dalam epistemologi klasik, pengetahuan sejati didefinisikan sebagai justified true belief keyakinan yang benar dan beralasan. AI memang dapat menghasilkan kebenaran secara fungsional, misalnya memprediksi cuaca atau mengenali wajah dengan tepat. Namun, AI tidak memiliki kepercayaan dan pembenaran rasional sebagaimana manusia. Karena itu, pengetahuannya bersifat instrumental, bukan reflektif.

    Filsafat ilmu tidak menolak AI, tetapi menempatkannya secara proporsional: AI adalah alat epistemik (epistemic tool), bukan subjek epistemik (epistemic subject). Ia membantu manusia menemukan pengetahuan, bukan menggantikannya. Manusia tetaplah pusat dari proses berpikir, sebab hanya manusia yang mampu mengaitkan data dengan makna, pengalaman, dan nilai.

    Dengan demikian, cara terbaik menyelesaikan persoalan epistemologis ini ialah melalui pendekatan integratif: menggabungkan kekuatan komputasional AI dengan kebijaksanaan manusia. Mesin dapat mempercepat analisis, tetapi manusia tetap harus menjadi pengendali arah kebenaran dan tujuan penggunaannya. Tanpa pengawasan manusia, pengetahuan AI bisa menjadi alat manipulasi, bukan pencerahan.

    Aksiologi: Etika dan Nilai dalam Era Kecerdasan Buatan

    Dalam filsafat ilmu, setiap pengetahuan memiliki dimensi nilai dan tujuan. Maka, pertanyaan aksiologis yang harus kita ajukan adalah: untuk apa AI digunakan, dan apa dampaknya bagi manusia?

    Tidak bisa dipungkiri, AI membawa manfaat besar. Ia meningkatkan efisiensi kerja, membantu penelitian medis, mempercepat pelayanan publik, dan membuka peluang ekonomi baru. Namun, di sisi lain, AI juga menimbulkan dilema etis: hilangnya privasi, bias algoritmik, ketimpangan data, bahkan ancaman terhadap otonomi manusia dalam mengambil keputusan.

    AI dapat membuat keputusan yang tampak objektif, tetapi algoritma yang mendasarinya tetap dirancang oleh manusia dengan segala bias dan kepentingan yang mungkin melekat. Di sinilah pentingnya etika keilmuan. Tanpa etika, pengetahuan menjadi kekuatan yang destruktif.

    Filsafat ilmu menekankan bahwa setiap kemajuan harus berpihak pada martabat manusia (human-centered technology). Tujuan utama teknologi bukan menggantikan manusia, melainkan memperluas potensi kemanusiaan: memperkuat kebijaksanaan, menegakkan keadilan, dan membawa kemaslahatan bersama.

    Dalam pandangan etika modern, dua nilai utama harus menjadi pedoman pengembangan AI:

    1. Kemaslahatan (beneficence) teknologi harus membawa manfaat nyata bagi kehidupan.
    2. Keadilan (justice) teknologi harus digunakan secara adil dan tidak menindas kelompok tertentu.

    Jika kedua nilai ini diabaikan, AI berisiko menjadi alat kekuasaan, bukan alat kemajuan. Karenanya, tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia sebagai pencipta dan pengguna pengetahuan.

    Penutup: Kembali pada Kemanusiaan

    Dari kacamata filsafat ilmu, klaim bahwa AI akan menggantikan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan tidaklah tepat. Secara ontologis, AI tidak memiliki kesadaran dan nilai eksistensial sebagaimana manusia. Secara epistemologis, pengetahuan AI terbatas pada data dan algoritma, tanpa pemahaman makna. Dan secara aksiologis, arah penggunaan AI sepenuhnya bergantung pada nilai moral manusia.

    AI adalah hasil kreativitas manusia, bukan pengganti manusia. Filsafat ilmu mengingatkan bahwa kemajuan sains dan teknologi harus selalu berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan moral. Tanpa itu, kecerdasan buatan justru bisa melahirkan kebodohan baru: ketika manusia menyerahkan keputusan moral kepada mesin.

    Di tengah derasnya arus digitalisasi, manusia perlu meneguhkan kembali perannya sebagai makhluk berpikir dan bermoral. Algoritma bisa menciptakan efisiensi, tetapi hanya kesadaran yang bisa menciptakan makna. Maka, tugas kita bukan menaklukkan teknologi, melainkan menuntunnya agar tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026

    Ketika Langit Tak Memilih Siapa yang Berhak Terbang

    01/14/2026

    Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tantangan, Hak, dan Harapan dalam Pendidikan serta Kehidupan Sosial

    01/10/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,209
    Don't Miss
    Nasional

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    By admin@kopelmanews.com02/07/20269

    Aceh, Kopelmanews.com – Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Ar-Raniry Sumatera Utara (IMARSU), Reyhan Marbun, menghadiri…

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026

    Mahasiswa KKN UNIMAL Kelompok 17 Bersihkan Lapangan Voli Desa Teupin Banja

    01/22/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.