Aceh, Kopelmanews.com – Bencana banjir besar yang melanda Pulau Sumatra pada akhir tahun 2025 merupakan peristiwa multidimensional yang tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga membawa konsekuensi serius terhadap keberlangsungan pendidikan anak. Banda Aceh (22/12/2025)
Curah hujan ekstrem yang terjadi secara berkelanjutan menyebabkan banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemberitaan media nasional dan internasional, bencana ini mengakibatkan ratusan hingga lebih dari seribu korban jiwa, ratusan ribu masyarakat mengungsi, serta kerusakan infrastruktur publik yang luas, termasuk ribuan fasilitas pendidikan. Kondisi tersebut menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu bidang yang paling terdampak, baik pada fase tanggap darurat maupun pemulihan pasca bencana.
Kerusakan fasilitas pendidikan akibat banjir menyebabkan terhentinya proses belajar mengajar dalam waktu yang tidak singkat. Banyak sekolah mengalami kerusakan ruang kelas, sarana belajar, dan lingkungan sekolah, sehingga kegiatan pembelajaran harus diliburkan atau dipindahkan ke sekolah darurat.
Dari perspektif psikologi pendidikan, kondisi ini berpotensi menimbulkan learning loss dan penurunan kualitas pembelajaran, terutama pada anak usia sekolah dasar yang masih berada pada tahap awal perkembangan kemampuan kognitif dan akademik. Selain itu, terputusnya rutinitas sekolah dapat mengganggu struktur kehidupan anak, yang pada dasarnya berfungsi sebagai sumber stabilitas dan rasa aman dalam perkembangan psikologis mereka.
Dampak bencana terhadap anak tidak hanya terlihat pada aspek akademik, tetapi juga pada kondisi psikologis dan perkembangan sosial-emosional. Banyak anak yang mengalami pengalaman traumatis, seperti kehilangan tempat tinggal, terpisah dari anggota keluarga, atau menyaksikan kerusakan lingkungan sekitar.
Dalam kerangka teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak usia sekolah berada pada tahap industry versus inferiority, di mana mereka berusaha mengembangkan rasa kompeten melalui keberhasilan belajar dan pencapaian akademik. Gangguan pendidikan akibat bencana berpotensi menghambat proses tersebut dan memunculkan perasaan rendah diri, tidak mampu, serta penurunan motivasi belajar apabila tidak diimbangi dengan dukungan yang memadai.
Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow juga memberikan pemahaman yang relevan terhadap kondisi pendidikan anak pasca banjir. Maslow menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti rasa aman dan perlindungan merupakan prasyarat bagi individu untuk dapat memenuhi kebutuhan tingkat lebih tinggi, termasuk kebutuhan belajar dan aktualisasi diri.
Dalam situasi pasca bencana, banyak anak berada dalam kondisi ketidakpastian, baik secara fisik maupun emosional. Selama kebutuhan akan keamanan, kenyamanan, dan dukungan emosional belum terpenuhi, kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan terlibat secara optimal dalam proses pembelajaran akan sangat terbatas.
Peran sekolah dalam konteks ini menjadi sangat penting, tidak hanya sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang aman (safe space) bagi pemulihan psikososial anak. Namun, bencana juga berdampak pada guru dan tenaga pendidik yang mengalami tekanan emosional serta kerugian material. Dalam psikologi pendidikan, kesejahteraan guru memiliki hubungan erat dengan kualitas pembelajaran dan iklim kelas. Oleh karena itu, pemulihan pendidikan pasca banjir memerlukan pendekatan sistemik yang melibatkan seluruh komunitas sekolah, termasuk siswa, guru, orang tua, dan pemangku kebijakan.
Pendekatan trauma-informed education menjadi kerangka yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan pasca bencana. Pendekatan ini menekankan pemahaman bahwa kesulitan belajar dan perilaku siswa sering kali berkaitan dengan pengalaman traumatis yang mereka alami.
Sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, empatik, dan suportif, serta mengintegrasikan dukungan emosional ke dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pemulihan psikologis dan kesejahteraan peserta didik.
Dalam konteks pemulihan pasca banjir di Aceh dan wilayah Sumatra lainnya, peran akademisi dan mahasiswa turut menjadi bagian penting dari upaya pemulihan psikososial. Sebagai mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry, saya turut terlibat aktif dalam kegiatan Ar-Raniry Counseling Peduli Korban Bencana, sebuah bentuk kepedulian terhadap mahasiswa terdampak yang mengalami duka dan tekanan psikologis akibat bencana.
Kegiatan ini bertujuan memberikan dukungan emosional, pendampingan psikososial, serta membantu korban, khususnya mahasiswa UIN Ar-Raniry, dalam menghadapi dampak psikologis pasca bencana. Selain itu, saya juga mengikuti pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi calon relawan psikososial yang diselenggarakan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Crisis Centre Psikologi, sebagai upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dalam memberikan bantuan psikologis awal yang tepat dan beretika.
Kontribusi nyata UIN Ar-Raniry dalam merespons bencana juga tercermin dari keterlibatan aktif para dosen yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami bencana secara teoretis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik kemanusiaan. Para dosen berperan dalam mengarahkan pemikiran akademik mahasiswa agar mampu memberikan kontribusi berbasis keilmuan psikologi bagi korban terdampak. Selain itu, dukungan institusional juga ditunjukkan oleh pimpinan universitas.
UIN Ar-Raniry memberikan bantuan dana kepada mahasiswa UIN yang terdampak bencana, sehingga beban ekonomi yang dialami mahasiswa pasca bencana dapat diminimalkan. Kebijakan ini menunjukkan perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap kesejahteraan mahasiswa, sekaligus mencerminkan peran perguruan tinggi sebagai institusi yang responsif terhadap kondisi krisis.
Secara keseluruhan, banjir besar di Pulau Sumatra tahun 2025 memberikan tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menjamin keberlanjutan pendidikan anak dan kesejahteraan psikologis mereka. Melalui perspektif psikologi pendidikan, pemulihan pasca bencana perlu dilakukan secara holistik dengan memperhatikan tahap perkembangan anak, pemenuhan kebutuhan dasar, serta penerapan pendekatan trauma-informed education.
Keterlibatan mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan seperti UIN Ar-Raniry menunjukkan bahwa dunia akademik memiliki peran strategis dalam mendukung pemulihan psikososial dan pendidikan korban bencana. Dengan sinergi antara kebijakan, praktik pendidikan, dan kepedulian kemanusiaan, pendidikan pasca bencana dapat menjadi sarana pemulihan dan penguatan ketahanan psikologis anak serta masyarakat secara berkelanjutan.

