Aceh, Kopelmanews.com– Anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh menunjukkan keberagaman karakter, kemampuan, serta potensi yang unik meskipun memiliki keterbatasan fisik maupun perilaku. Hal tersebut terungkap dari hasil kegiatan observasi lapangan yang saya lakukan di salah satu SLB di Kota Banda Aceh dalam rangka melihat secara langsung proses pembelajaran dan interaksi siswa di lingkungan sekolah. Banda Aceh (26/12/2025)
Dalam pengamatan tersebut, saya melihat bahwa setiap anak memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada yang aktif, sangat aktif, mudah diajak berkomunikasi, hingga ada pula yang cenderung sulit berinteraksi dan menunjukkan perilaku agresif seperti memukul atau melempar barang. Namun secara umum, anak-anak SLB tersebut mampu merespons lingkungan sekitar dan memahami instruksi sederhana yang diberikan oleh guru maupun orang lain.
Beberapa siswa tampak memiliki kemampuan khusus, seperti bernyanyi mengikuti alunan musik meskipun dengan lirik yang tidak jelas. Ada pula anak yang menunjukkan respons emosional berlebihan ketika mendapat sanjungan, seperti tertawa tanpa henti. Di sisi lain, terdapat siswa yang lancar berkomunikasi secara verbal, namun ada juga yang kesulitan berbicara dan lebih mengekspresikan diri melalui gerakan atau musik.
Saat pelaksanaan ujian, hampir seluruh siswa memerlukan bimbingan dari wali kelas. Mulai dari memegang pensil, memahami soal, hingga diarahkan untuk menjawab. Konsentrasi siswa juga relatif mudah terdistraksi sehingga guru perlu bersikap tegas agar mereka mau menyimak dan mengerjakan soal. Meski demikian, sebagian besar siswa memahami bahwa lembar yang dibagikan adalah lembar ujian, meskipun respons mereka berbeda-beda. Ada yang memperhatikan dengan baik, namun ada pula yang langsung meremas lembar jawaban tersebut.
Tingkah laku unik juga kerap muncul selama kegiatan berlangsung. Beberapa siswa secara spontan menyambung lagu ketika mendengar suara beralun, ada yang menunjukkan rasa cemburu saat wali kelas memuji temannya, bahkan ada yang tiba-tiba melantunkan zikir atau azan. Ketika kegiatan ice breaking diputar melalui laptop, sebagian besar siswa tampak menyimak, bahkan menirukan gerakan yang ditampilkan.
Dalam keseharian, anak-anak SLB ini menunjukkan tingkat kemandirian yang cukup baik. Mereka mampu membuka bekal sendiri, mengupas buah, membuka tumbler, serta mengambil peralatan makan sesuai instruksi. Saat diminta mengambil sendok di lemari, beberapa siswa langsung mengetahui letaknya tanpa keliru mengambil garpu. Mereka juga terbiasa membuang sampah pada tempatnya.
Menariknya, ketika waktu makan, anak-anak cenderung tidak berbicara dan tidak mengganggu teman. Namun, ekspresi kegembiraan terlihat jelas ketika mereka menikmati makanan favorit, ditunjukkan dengan suara antusias dan gestur menunjukkan makanan tersebut. Ada pula siswa yang memilih makan menggunakan tangan kiri dan enggan menggunakan tangan kanan.
Dalam hal sosial, sebagian siswa menunjukkan sikap berbagi, meskipun selektif. Seorang siswa dengan spontan memberikan jeruk kepada wali kelas ketika diminta, namun enggan membagikannya kepada teman karena merupakan makanan favoritnya. Sebaliknya, untuk jenis bekal lain, siswa tersebut tidak pelit. Bekal yang dibawa pun beragam, mulai dari buah, roti, hingga makanan ringan.
Observasi juga menunjukkan kemampuan kognitif yang menarik. Saat musik berhitung diperdengarkan, salah satu siswa langsung menunjuk angka yang tertera di dinding kelas. Cara siswa menghafal musik pun beragam, ada yang mengikuti alunan secara spontan, ada yang memejamkan mata, menatap ke atas, hingga menggerakkan kaki mengikuti irama. Kegiatan lapangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak SLB di Banda Aceh bukan hanya memiliki keterbatasan, tetapi juga potensi, kemandirian, serta keunikan yang patut diapresiasi. Dengan pendampingan yang tepat, kesabaran guru, dan lingkungan yang suportif, mereka mampu berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

