Aceh, Kopelmanews.com – Masih banyak dari kita yang memandang anak berkebutuhan khusus sebagai keterbatasan, bahkan beban bagi keluarga dan lingkungan. Tanpa disadari, cara pandang inilah yang justru menjadi tembok paling tinggi yang menghalangi mereka untuk tumbuh di ruang yang adil dan manusiawi. Padahal, anak berkebutuhan khusus bukan anak yang “kurang”. Mereka hanya memiliki kebutuhan yang berbeda. Seperti anak lainnya, mereka berhak atas pendidikan yang layak, lingkungan yang ramah, serta kesempatan yang setara untuk berkembang. Banda Aceh (26/12/2025)
Namun realitas di lapangan berkata lain. Diskriminasi masih kerap hadir, mulai dari penolakan di sekolah, stigma sosial, hingga minimnya akses layanan yang mendukung. Kita sering lupa bahwa inklusivitas bukan soal rasa kasihan, melainkan soal keadilan. Ukuran kemajuan sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan mereka yang paling rentan. Ketika anak berkebutuhan khusus terpinggirkan, yang gagal bukan mereka, melainkan empati dan sistem sosial kita.
Banyak kisah telah membuktikan, dengan dukungan yang tepat, anak berkebutuhan khusus mampu berprestasi dan memberi dampak nyata di berbagai bidang—seni, olahraga, teknologi, hingga kewirausahaan. Mereka bukan objek belas kasihan, melainkan individu dengan potensi dan masa depan.
Sudah saatnya cara kita bercerita tentang mereka diubah: dari “kasihan” menjadi “kesempatan”, dari “keterbatasan” menjadi “keberagaman”. Sekolah inklusif, layanan publik yang ramah disabilitas, dan pendidikan empati harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar wacana.
Anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan simpati berlebihan; mereka hanya butuh diterima, didukung, dan diberi ruang untuk tumbuh. Karena masyarakat yang inklusif bukan hanya membuat mereka lebih bahagia, tetapi juga membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

