Aceh, Kopelmanews.com – Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke Sekolah Luar Biasa (SLB) B YPAC. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus yang bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami karakteristik anak tunarungu, khususnya dalam aspek komunikasi, aktivitas fisik, serta interaksi sosial di lingkungan sekolah. Banda Aceh (27/12/2025)
Sejak awal memasuki lingkungan SLB-B YPAC, suasana belajar yang ditemui tampak berbeda dibandingkan dengan sekolah reguler. Proses pembelajaran tidak didominasi oleh komunikasi verbal, melainkan mengandalkan bahasa isyarat, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh. Siswa tunarungu terlihat berinteraksi secara aktif satu sama lain melalui komunikasi visual yang berlangsung alami dan lancar. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang bagi siswa dalam menjalin hubungan sosial.
Lingkungan SLB-B YPAC memperlihatkan pola pembelajaran yang menekankan komunikasi visual dan nonverbal. Selama proses observasi, interaksi antarsiswa berlangsung aktif melalui bahasa isyarat, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh. Pola komunikasi tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan sosial di antara siswa tunarungu. Meskipun tanpa komunikasi verbal, siswa mampu mengekspresikan emosi, menyampaikan kebutuhan, serta merespons lingkungan sekitar dengan baik. Hal ini menunjukkan efektivitas bentuk komunikasi alternatif dalam mendukung proses belajar.
Dari perspektif psikologi, penggunaan bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga berperan dalam pembentukan identitas dan rasa percaya diri siswa tunarungu. Siswa tampak nyaman dan tidak menunjukkan hambatan berarti dalam berinteraksi, baik dengan teman sebaya maupun dengan guru. Lingkungan belajar yang mendukung terlihat berkontribusi positif terhadap perkembangan psikososial anak berkebutuhan khusus.
Selain aspek komunikasi, aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Pada saat kunjungan berlangsung, siswa mengikuti kegiatan senam yang dipandu oleh guru olahraga. Instruksi diberikan melalui contoh gerakan dan arahan visual yang jelas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berjalan efektif tanpa komunikasi verbal. Aktivitas senam membantu siswa melatih koordinasi gerak, konsentrasi, serta kemampuan mengikuti aturan dalam kelompok.
Kegiatan senam lantai juga menjadi bagian dari aktivitas siswa. Dalam pelaksanaannya, guru menerapkan pendekatan yang suportif dan penuh kesabaran dengan menekankan proses dibandingkan hasil akhir. Siswa diberikan ruang untuk mencoba sesuai kemampuan masing-masing tanpa tekanan. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang aman dan mendorong siswa untuk berani bereksplorasi serta mengembangkan potensi diri.
Aspek hubungan emosional antara guru dan siswa tampak terjalin dengan baik. Interaksi yang terjadi menunjukkan adanya kelekatan emosional dan rasa saling percaya. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur pendukung yang memberikan penguatan positif. Sikap apresiatif guru, baik melalui gestur maupun ekspresi wajah, terlihat memberikan dampak positif terhadap rasa percaya diri siswa tunarungu.
Dalam salah satu kesempatan, dilakukan komunikasi langsung dengan seorang siswa menggunakan bahasa isyarat sederhana. Meskipun terdapat keterbatasan dalam penguasaan bahasa isyarat, respons siswa yang ramah dan kooperatif, ditunjukkan melalui senyuman dan gestur yang perlahan, menciptakan suasana interaksi yang nyaman. Pengalaman ini menunjukkan bahwa komunikasi dapat terjalin dengan baik apabila dilandasi empati dan kemauan untuk saling memahami.

