Aceh, Kopelmanews.com – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan individu yang memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda dari anak pada umumnya, baik secara fisik, sensorik, intelektual, maupun sosial-emosional, sehingga memerlukan layanan pendidikan dan pendampingan khusus sesuai dengan kebutuhannya. Menurut Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), ABK adalah anak yang mengalami hambatan atau kelainan tertentu yang berdampak pada proses belajar dan penyesuaian diri dalam lingkungan sosial. Banda Aceh (27/12/2025)
Salah satu kelompok ABK adalah anak dengan hambatan pendengaran (tuna rungu), yaitu individu yang mengalami gangguan fungsi pendengaran sehingga memengaruhi kemampuan komunikasi verbal. Kondisi ini menuntut pendekatan pembelajaran yang adaptif, seperti penggunaan bahasa isyarat, komunikasi visual, serta lingkungan belajar yang inklusif dan suportif.
Dalam pendampingan ABK, konsep empowerment (pemberdayaan) menjadi aspek yang sangat penting. Empowerment dimaknai sebagai proses membantu individu mengenali potensi diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta memberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam menentukan arah hidupnya. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa setiap manusia dimuliakan oleh Allah SWT tanpa membedakan kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isrā’: 70)
Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa setiap ujian yang diberikan Allah SWT selalu disertai dengan kemampuan untuk menjalaninya:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Berangkat dari pemahaman tersebut, pada Sabtu, 22 November 2025, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry melaksanakan kegiatan edukatif dan motivasi di SLB-B YPAC Banda Aceh, yang didampingi oleh dosen Fakultas Psikologi bapak Hari Santoso, S.Psi., M.Ed.
Dalam kegiatan ini, Rizki Safira, mahasiswi semester 5 Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry yang biasa dipanggil Fira, dipercaya untuk menjadi pemateri utama, didampingi oleh Cut Khairatun Hisan. Sebagai pemateri, Fira menyampaikan materi motivasi yang berfokus pada cita-cita, semangat pantang menyerah, serta pemberdayaan (empowerment) bagi anak penyandang disabilitas, khususnya anak tuna rungu.
Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan yang komunikatif, empatik, dan penuh kehangatan, disesuaikan dengan kondisi siswa. Dalam pemaparannya, Fira menekankan bahwa setiap anak adalah pribadi yang istimewa, memiliki potensi, serta berhak bermimpi dan berjuang untuk masa depannya.
Pesan motivasi juga diperkuat dengan nilai-nilai Islam, bahwa keterbatasan bukanlah bentuk kekurangan, melainkan ujian yang memiliki hikmah dan dapat menjadi jalan untuk mengangkat derajat seseorang di sisi Allah SWT. Salah satu momen yang paling menyentuh dalam kegiatan ini adalah ketika dua siswa kembar, Yasin dan Hisan, menyampaikan cita-cita mereka untuk menjadi guru olahraga. Ketulusan dan semangat yang ditunjukkan oleh kedua siswa tersebut menjadi gambaran nyata keberhasilan pendekatan empowerment yang disampaikan, sekaligus memberikan inspirasi mendalam bagi seluruh peserta kegiatan

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama, dilanjutkan dengan sesi materi motivasi, serta observasi pembelajaran di kelas olahraga. Guru olahraga SLB-B YPAC Banda Aceh memperagakan metode pembelajaran melalui praktik langsung menggunakan matras dengan teknik lompat dan berguling, yang dilakukan dengan bahasa isyarat serta pendampingan intensif agar siswa dapat mengikuti kegiatan dengan aman dan optimal.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian ucapan terima kasih, sesi foto bersama, serta doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran kegiatan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga pembelajaran nilai kemanusiaan, empati, dan pengabdian sosial.

Melalui kegiatan edukatif ini, diharapkan mampu terus mengembangkan kepekaan sosial, nilai religiusitas, serta semangat pemberdayaan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus, baik dalam ranah akademik maupun kehidupan bermasyarakat.

