Aceh, Kopelmanews.com – Kunjungan ke SLB TNCC Banda Aceh menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung di kelas anak berkebutuhan khusus. Dari hasil pengamatan, dalam satu kelas terdapat beberapa siswa dengan kondisi yang berbeda, seperti autisme, gangguan perkembangan menyeluruh (GDD), dan tunagrahita. Perbedaan inilah yang membuat suasana belajar di kelas menjadi sangat beragam dan terlihat bagaimana para guru (nany) memberikan pengajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Banda Aceh (26/12/2025)
Apa yang Dimaksud Anak Berkebutuhan Khusus?
Heward (dalam Desiningrum, 2016) menyatakan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Mereka mengalami keterbatasan atau juga keluarbiasaan dalam aspek fisik, intelektual, sosial, maupun emosional, yang berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangan jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Perbedaan tersebut membuat proses pembelajaran tidak dapat disamakan dengan anak pada umumnya dan membutuhkan kesabaran serta perhatian lebih dari pendidik.
Perbedaan Pola Makan Siswa
Berdasarkan hasil observasi, pola makan siswa di kelas juga berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing anak. Saat waktu makan, terlihat bahwa anak dengan autisme tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan secara sembarangan. Mereka tidak diberikan makanan dari program MBG, melainkan membawa bekal khusus dari rumah yang telah disiapkan oleh orang tua. Hal ini dilakukan karena anak autis memiliki pantangan makanan tertentu yang dapat memengaruhi perilaku dan kondisi mereka.
Sementara itu, anak dengan kebutuhan khusus lainnya seperti GDD dan tunagrahita diperbolehkan mengonsumsi MBG seperti anak-anak pada umumnya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan setiap anak benar-benar diperhatikan dan disesuaikan oleh guru (Nany) di sekolah tersebut.
Perbedaan Karakteristik Setiap Anak
Di dalam kelas yang diamati, terdapat lima anak dengan karakteristik yang berbeda-beda. Tiga di antaranya merupakan siswa dengan autisme, masing-masing menunjukkan ciri khas tersendiri. Anak autis pertama memiliki imajinasi yang sangat kuat, terutama terhadap hewan. Ketika melihat gambar hewan, anak tersebut dapat tenggelam dalam imajinasinya sendiri sehingga sulit fokus pada kegiatan lain di sekitarnya.
Anak autis kedua memiliki kebiasaan mencubit tangan ketika merasa gemas atau geram. Namun perilaku tersebut tidak dilakukan secara berlebihan karena sebelumnya telah menjalani terapi, sehingga masih dapat dikontrol. Anak autis ketiga memiliki kebiasaan menepuk tangan ke atas sebagai bentuk reaksi terhadap sesuatu. Anak ini juga sulit mencoba makan buah dan keinginannya untuk makan sering kali bergantung pada suasana hati.
Sementara itu, anak dengan GDD tidak dapat berbicara, tetapi tergolong cepat tanggap terhadap apa yang disampaikan oleh orang di sekitarnya. Meskipun cenderung pendiam, perilakunya cukup baik dan mampu memahami instruksi melalui respons nonverbal. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir yang lebih lambat dan mengalami kesulitan dalam memahami instruksi, sehingga guru perlu menyampaikan arahan secara sederhana, perlahan, dan berulang.
Kegiatan Ecobrick sebagai Media Pembelajaran
Selain kegiatan belajar di kelas, siswa di SLB TNCC Banda Aceh juga mengikuti kegiatan ecobrick. Kegiatan ini cukup disukai oleh siswa karena melibatkan aktivitas langsung. Melalui ecobrick, siswa diajak mengumpulkan dan memasukkan sampah plastik ke dalam botol sebagai bentuk pembelajaran kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini juga melatih fokus, kesabaran, serta kemampuan mengikuti instruksi secara bertahap. Guru mendampingi siswa dengan penuh kesabaran sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
Pembiasaan Kemandirian dan Sikap Disiplin dalam Kegiatan Sehari-hari
Siswa di SLB TNCC Banda Aceh dibiasakan untuk mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Guru melatih siswa untuk makan sendiri, merapikan barang, serta mengikuti rutinitas harian tanpa selalu bergantung pada bantuan orang lain. Pembiasaan ini dilakukan secara perlahan dan berulang agar siswa terbiasa dan merasa mampu.
Selain kemandirian, sikap disiplin juga ditanamkan melalui rutinitas yang konsisten, seperti mengikuti jadwal belajar, waktu makan, ke kamar mandi, serta aturan kelas. Disiplin diterapkan dengan cara yang tegas namun tetap penuh pengertian, tanpa paksaan. Kesabaran guru menjadi faktor penting dalam membantu siswa memahami dan menjalankan aturan dengan baik.
Dari keseluruhan kegiatan belajar mengajar, terlihat jelas bahwa guru (nany) memiliki peran yang sangat penting. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang menenangkan dan memahami karakter setiap siswa. Dengan kondisi siswa yang beragam, kesabaran dan ketelatenan guru menjadi kunci utama agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Pengamatan terhadap kegiatan di SLB TNCC Banda Aceh memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Melihat langsung aktivitas anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan kebiasaan yang berbeda. Kesabaran para guru dalam menghadapi berbagai karakter, suasana hati, dan kebutuhan anak menjadi cerminan dedikasi yang tinggi.
Kegiatan belajar di kelas, makan bersama, hingga ecobrick menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan kemandirian dan kedisiplinan. Pendidikan anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan komitmen yang besar, dan pengalaman di SLB TNCC Banda Aceh menjadi gambaran nyata dari nilai-nilai tersebut.

