Aceh, kopelmanews.com – Aceh menempati posisi penting dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Terletak di ujung barat Pulau Sumatra, wilayah ini sejak lama dikenal sebagai “Serambi Mekkah” karena perannya sebagai pintu masuk dan pusat penyebaran Islam di Nusantara. Banda Aceh (19/12/2025)
Dalam lintasan sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam pernah tampil sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar, berpengaruh, dan disegani di kawasan regional.
Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada akhir abad ke-15 M, sekitar tahun 1496, di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah. Kemunculannya tidak terlepas dari melemahnya Kerajaan Samudera Pasai akibat serangan Portugis pada awal abad ke-16. Dalam situasi geopolitik tersebut, Aceh bangkit sebagai kekuatan baru yang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di pesisir utara Sumatra dan tampil sebagai penantang utama dominasi Portugis di Selat Malaka.
Letak geografis Aceh yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikannya pusat perniagaan penting. Pelabuhan-pelabuhan Aceh ramai dikunjungi pedagang dari Arab, India, Cina, dan Eropa. Komoditas utama seperti lada dan pala menjadi sumber kekuatan ekonomi kesultanan. Kejayaan ekonomi ini tidak hanya meningkatkan kemakmuran masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi politik dan militerg Aceh di kawasan Asia Tenggara.
Puncak kejayaan Aceh Darussalam tercapai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Di bawah kepemimpinannya, Aceh berkembang menjadi kekuatan maritim besar. Wilayah kekuasaan Aceh meluas hampir ke seluruh pesisir barat dan timur Sumatra, sebagian besar Semenanjung Malaya, bahkan hingga Kepulauan Andaman dan Nicobar. Ekspansi ini menegaskan peran Aceh sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan oleh kerajaan-kerajaan lain maupun bangsa Eropa.
Namun, kejayaan Aceh tidak hanya terletak pada kekuatan politik dan militernya. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Aceh juga berkembang sebagai pusat pendidikan dan keilmuan Islam. Banyak ulama besar lahir dan berkarya di Aceh, di antaranya Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniry.
Karya-karya mereka dalam bidang tasawuf, teologi, dan sastra menjadi rujukan penting dalam perkembangan intelektual Islam Nusantara. Dayah-dayah yang tersebar di berbagai wilayah Aceh menjadi pusat pendidikan Islam dan menarik pelajar dari berbagai penjuru Asia Tenggara.
Dalam sistem pemerintahan, Aceh menerapkan bentuk kesultanan yang memadukan kekuasaan politik dan agama. Sultan memegang otoritas tertinggi, dibantu oleh wazir, uleebalang, panglima laut, serta qadhi sebagai penegak hukum syariat.
Sistem hukum Aceh menggabungkan hukum adat (hukom adat) dan syariat Islam melalui qanun-qanun kesultanan. Pola ini menunjukkan kemampuan Aceh dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal secara harmonis.
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Aceh juga mencerminkan kuatnya identitas Islam. Tradisi keagamaan seperti kenduri, peringatan hari besar Islam, serta praktik gotong royong menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Meunasah berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan pendidikan masyarakat. Dalam bidang seni dan arsitektur, Aceh meninggalkan warisan berharga berupa seni ukir, kaligrafi, dan bangunan masjid megah seperti Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol kejayaan Islam Aceh.
Peran Aceh dalam penyebaran Islam di Nusantara sangat signifikan. Dari pelabuhan-pelabuhan Aceh, para ulama dan dai melanjutkan dakwah ke berbagai wilayah, termasuk Sumatra bagian lain, Jawa, Kalimantan, hingga Semenanjung Malaya.
Hubungan diplomatik Aceh dengan dunia Islam internasional, termasuk Kesultanan Utsmani di Turki, semakin memperkuat posisinya sebagai pusat Islam yang berpengaruh di kawasan.
Setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda, Aceh perlahan mengalami kemunduran akibat konflik internal dan intervensi kolonial Belanda. Meski demikian, semangat perlawanan rakyat Aceh tidak pernah padam.
Perang Aceh (1873–1904) menjadi bukti nyata keteguhan masyarakat Aceh dalam mempertahankan kedaulatan dan identitasnya. Warisan sejarah ini masih terasa hingga kini dalam adat, budaya, serta penerapan nilai-nilai Islam di Aceh modern.
Membaca kembali sejarah Aceh Darussalam berarti menelusuri jejak kejayaan peradaban Islam Nusantara. Aceh bukan hanya saksi masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi masa kini. Keberanian, kemandirian, dan semangat keilmuan yang diwariskan Kesultanan Aceh Darussalam merupakan modal penting untuk membangun masa depan yang berakar pada nilai sejarah dan budaya bangsa.

