Aceh, Kopelmanews.com – Pendidikan adalah hak bagi semua anak, bukan hanya untuk mereka yang mampu membayar mahal. Namun sayangnya, biaya pendidikan yang tinggi seringkali membuat anak-anak dari keluarga kurang mampu sulit untuk mendapatkan kesempatan belajar yang layak. Dari sudut pandang filsafat ilmu pendidikan, beasiswa bukan hanya sekadar bantuan uang.
Beasiswa adalah jalan penting yang membantu mengatasi ketidakadilan dalam akses pendidikan. Dari Hal tersebut penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera, di mana setiap anak bisa berkembang tanpa terkendala dengan masalah ekonomi.
Beasiswa adalah investasi penting untuk membantu anak-anak mendapatkan hak mereka atas pendidikan, bukan hanya sekadar bantuan uang. Seringkali masalah ketidakadilan dalam pendidikan terjadi karena sistem yang tidak merata, sehingga banyak anak berbakat tetapi tidak punya uang untuk belajar. Akan tetapi kalau beasiswa dikelola dengan baik, dengan jelas dan berdasarkan data yang benar, bantuan ini bisa mewujudkan impian banyak anak untuk belajar dan meraih masa depan.
Beasiswa juga dapat membantu menciptakan generasi muda yang pintar dan siap bersaing, yang nantinya bisa membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara. Jadi, memberi beasiswa adalah salah satu langkah nyata untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan sejahtera untuk semua orang.
Secara ontologis, Pendidikan merupakan hak dasar yang wajib bagi manusia yang mana hak tersebut sejajar dengan hak hidup dan kebutuhan penghidupan layak. Sama halnya seperti udara dan makanan, pendidikan mutlak diperlukan untuk mengembangkan potensi individu agar dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Kekurangannya akses pendidikan yang disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga dapat menimbulkan ketidakadilan sosial yang nyata.
Contoh yang sering terjadi, anak-anak di daerah pinggiran atau pedesaan yang memiliki cita-cita tinggi tetapi sering kali terkendala karena biaya sekolah, buku, dan transportasi. Maka di sinilah beasiswa hadir dan berperan sebagai jembatan yang menghubungkan hak ontologis dengan akses pendidikan nyata.
Dalam perspektif epistemologi, penyaluran beasiswa harus didasarkan pada data yang valid dan metodologi ilmiah guna untuk memastikan tepat sasaran. Penggunaan teknologi digital dalam pendaftaran, verifikasi, dan monitoring menjadi kunci transparansi serta menghindari salah sasaran dan penyalahgunaan dana. Evaluasi berkala juga perlu dilakukan karena untuk memastikan program beasiswa tersebut menyentuh para penerima yang benar-benar berhak menerima beasiswa serta mendorong peningkatan prestasi siswa.
Menurut saya, Studi kasus dapat menunjukkan bahwa siswa penerima beasiswa berpeluang lebih besar untuk dapat menyelesaikan pendidikan dan mencapai prestasi lebih tinggi dibanding yang tidak mendapatkan dukungan.
Seperti studi kasus yang terjadi pada Mahasiswa Penerima Beasiswa Bank Indonesia dan KIP Di Indonesia, banyak mahasiswa yang berasal dari latar belakang ekonomi yang tergolong kurang mampu yang mungkin bisa melanjutkan pendidikan karena berkat adanya beasiswa. Salah satunya adalah cerita Silviana Dian Safitri, yang merupakan mahasiswidari jurusan Akuntansi, yang dua kali berturut-turut mendapatkan Beasiswa Bank Indonesia (BI).
Silviana ini berasal dari Gunung Kidul, yaitu daerah yang dulu sulit dijangkau pendidikan berkualitas. Dengan mendapatkan beasiswa BI, ia tidak hanya mendapatkan dukungan biaya yang cukup, tapi juga menjadi bagian dari komunitas GenBI yang membantu mengembangkan kemampuan softskill, seperti kepemimpinan dan organisasi.
Prestasi akademiknya pun sangat gemilang dengan IPK di atas 3,5 setiap semester. Nah, dari Kisah Silviana ini kita dapat mengetahui bagaimana beasiswa ini berperan penting dan juga menunjukkan bagaimana beasiswa bisa menjadi dorongan kuat bagi mahasiswa untuk tetap disiplin belajar dan menggapai cita-cita besar, yakni menjadi bagian dari Bank Indonesia
Sementara itu, dari sisi program beasiswa pemerintah, Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga membantu banyak siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk mengakses pendidikan. Contohnya, seorang mahasiswa asal desa terpencil yang sejak kecil bermimpi jadi insinyur. Nah, beasiswa KIP menanggung biaya kuliah dan sebagian kebutuhan hidupnya selama masa studi di perguruan tinggi ternama. Berkat beasiswa ini, ia bisa konsisten belajar tanpa harus khawatir masalah biaya. Setelah lulus, mahasiswa ini kemudian berkontribusi membangun desa kelahirannya dengan menerapkan ilmu dan teknologi yang didapat selama kuliah
Jadi, dari dua kisah yang telah saya bahas tersebut, dapat membuktikan bahwa beasiswa bukan hanya soal bantuan uang, tetapi juga dorongan moral dan sosial yang membuka peluang luas bagi mereka yang punya semangat dan potensi. Mereka yang menerima beasiswa seringkali menunjukkan peningkatan prestasi dan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar, dan juga dapat menegaskan pentingnya terus mendukung program beasiswa sebagai wujud mewujudkan pendidikan terjangkau yang merata di Indonesia.
Sedangkan kalau dilihat dari ranah aksiologi, beasiswa mencerminkan nilai keadilan sosial dan solidaritas kemanusiaan. Pemberian beasiswa mengakui ketidaksetaraan kesempatan dan mengambil langkah nyata menutup jurang tersebut. Solidaritas ini menumbuhkan rasa kebersamaan dalam masyarakat, menjadikan pendidikan hak semua anak bangsa, bukan hanya milik anak orang kaya saja.
Program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan beasiswa dari yayasan sosial yang telah saya bahas tadi dapat membuktikan bahwa nilai keadilan sosial dapat diwujudkan secara kolektif dan berkelanjutan. Adapun kesimpulannya adalah dengan mewujudkan pendidikan yang terjangkau dan merata melalui beasiswa adalah tindakan konkret yang dapat membangun keadilan sosial serta memperkuat fondasi masa depan sebuah bangsa.
Dengan begitu sangat diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, dan komunitas untuk memperluas cakupan dan meningkatkan pengelolaan program. Oleh karena itu, Mari sama-sama kita mendorong beasiswa menjadi program rutin yang berkelanjutan agar tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal karena faktor ekonomi. Dengan komitmen dan aksi nyata, mimpi setiap anak untuk meraih cita-cita bukan sekadar angan, melainkan kenyataan yang dapat diraih bersama.

