Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Senin, Februari 9
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Self-Healing atau Self-Delaying? Ketika Mahasiswa Terlalu Sibuk Menenangkan Diri
    Opini

    Self-Healing atau Self-Delaying? Ketika Mahasiswa Terlalu Sibuk Menenangkan Diri

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com05/19/2025Tidak ada komentar40 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Penulis : Nasywa Ghina, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Di era media sosial yang dipenuhi konten “healing dulu biar waras”, tidak sedikit mahasiswa yang menjadikan aktivitas healing sebagai bagian dari gaya hidup. Pergi ke pantai, staycation, quality time bareng teman, hingga sekadar ngopi sambil dengar lagu sering disebut sebagai bentuk self-healing. Tapi, apakah benar semua itu murni untuk memulihkan diri atau sebenarnya hanya cara menunda kenyataan?

    Fenomena ini menarik untuk dibedah dari sudut pandang psikologi. Dalam teori coping mechanism, ada dua jenis cara manusia menghadapi stres: problem-focused coping (berusaha menyelesaikan masalahnya langsung), dan emotion-focused coping (berusaha menenangkan diri dari emosi negatif). Nah, healing sering masuk ke kategori kedua. Karena manusia memang butuh jeda untuk menenangkan diri. Tapi masalah muncul ketika jeda itu berubah menjadi pelarian tanpa arah.

    Sebagian mahasiswa hari ini menjadikan healing sebagai rutinitas tanpa pemulihan. Tugas menumpuk, hubungan personal berantakan, finansial kacau tapi semua itu dihindari dengan alasan “aku lagi butuh waktu untuk diri sendiri”. Padahal, semakin lama ditunda, semakin berat beban yang harus dihadapi nanti. Inilah yang disebut sebagai self-delaying: ketika healing bukan lagi proses penyembuhan, tapi justru menunda proses dewasa.

    Ada juga tekanan sosial yang tidak terlihat. Ketika time line dipenuhi orang-orang yang healing ke tempat estetik, mahasiswa lain jadi merasa “kurang” kalau tidak ikut-ikutan. Padahal, setiap orang punya cara pulih yang berbeda. Healing seharusnya tidak harus mahal, tidak harus viral, dan yang pasti: tidak harus jadi alasan untuk lari dari kenyataan. Fenomena ini makin rumit karena standar “healing yang ideal” seolah-olah ditentukan oleh media sosial. Seakan-akan, healing itu baru sah kalau dilakukan di tempat estetik, pakai outfit kece, dan diunggah di sosial media. Tanpa disadari, ini menambah tekanan psikologis bagi mahasiswa yang merasa belum mampu “healing” dengan cara seperti itu. Padahal, inti dari self-healing bukan terletak pada tampilannya, tapi pada dampaknya: apakah setelahnya kita merasa lebih tenang, lebih jernih, dan lebih siap menjalani hari-hari?

    Karena pada akhirnya, self-healing yang sehat adalah yang membantu kita kembali kuat menghadapi hidup, bukan sekadar kabur sebentar terus balik lagi dengan masalah yang sama. Maka, sebelum bilang “aku butuh healing”, coba tanya dulu ke diri sendiri: aku sedang menyembuhkan… atau sedang menunda.

    Healing Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Psikologi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026

    Ketika Langit Tak Memilih Siapa yang Berhak Terbang

    01/14/2026

    Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tantangan, Hak, dan Harapan dalam Pendidikan serta Kehidupan Sosial

    01/10/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,209
    Don't Miss
    Nasional

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    By admin@kopelmanews.com02/07/20269

    Aceh, Kopelmanews.com – Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Ar-Raniry Sumatera Utara (IMARSU), Reyhan Marbun, menghadiri…

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026

    Mahasiswa KKN UNIMAL Kelompok 17 Bersihkan Lapangan Voli Desa Teupin Banja

    01/22/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    IMPS Dorong Pelajar Siantar, Simalungun Lanjut Pendidikan Tinggi

    01/22/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,179

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,043
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.